![]() |
Spanduk penolakan tukar guling aset desa Tanggul Tlare Jepara. (KF-istimewa) |
Rencana dan
desas desus mengenai tukar guling tanah aset desa tersebut mengemuka di awal
Maret 2018 lalu. Warga mengaku kecewa lantaran tak pernah diajak musyawarah
mengenai rencana tersebut. Apalagi, terdengar kabar jika tanah aset desa
tersebut mau dijadikan SPBU.
“Namun kami
tidak diberitahu, tidak disosialisasi, hanya beberapa orang warga saja yang
tahu. Kami sempat menanyakan (audiensi) ke Bupati Jepara terkait mekanisme
tukar guling, namun disana dijelaskan prosesnya tak segampang itu. Perlu proses
yang alot. Namun ini dalam waktu sebulan sudah ada persetujuan dari beberapa
orang untuk tukar guling,” kata Salah seorang warga, Yusuf Andrean seperti
dikutip murianewscom.
Dirinya
menyebut, sudah beberapa kali bertanya kepada kades terkait hal itu. Namun
warga tidak mendapatkan jawaban memuaskan. Hingga akhirnya warga memasang
spanduk penolakan, dilokasi yang rencananya akan ditukar guling.
Adapun,
lokasi yang ditukar guling seluas lebih kurang 4000 meter persegi, akan ditukar
dengan tanah seluas 12 ribu meter persegi.
“Tanah ini
(yang hendak ditukar guling) dulunya pengairan tapi sudah lama tak digunakan.
Akhirnya disewa masyarakat untuk tambak. Adapula di beberapa bagian ditanami
pohon bakau, untuk mencegah abrasi,” ungkapnya yang juga anggota karangtaruna
tersebut.
Ia berharap
agar aset tanah tersebut dapat digarap secara swakelola oleh pemdes Tanggul
Tlare. Dengan itu, ia berharap kemanfaatannya dapat dinikmati lebih besar bagi
warga.
Kedatangan
sejumlah warga di balai desa tersebut menyita perhatian banyak pihak, terutama dari
pemerintah desa maupun kecamatan. Selain kepala desa Baidi Asy Syafii, hadir
pula jajaran Muspika Kecamatan Kedung.
Pertemuan
warga dengan pemerintah desa, sempat berjalan alot. Itu lantaran Kades Tanggul
Tlare Baidi menyangsikan tanda tangan penolakan warga sebanyak 207 orang yang
dibubuhkan, ditengarai tidak asli.
Kontan hal
itu menimbulkan reaksi dari warga. Mereka sempat tak terima dengan klaim dari
Baidi. Bahkan, kepala desa sempat memohon untuk diberi waktu seminggu guna
membatalkan proses tukar guling.
”Kami berani
kok kemudian di cek satu-satu keliling desa untuk memastikan kebenaran tanda
tangan kami,” tutur Yusuf.
Ia
menjelaskan, penolakan warga atas rencana tukar guling merupakan bentuk
keprihatinan terhadap pemerintah desa. Selain tak dilibatkan, proses tersebut
seoalh-olah dilakukan tertutup. Karena itu, banyak warga yang kesal.
”Sekali lagi
silahkan dicek ke warga. Tak ada manipulasi dalam tanda tangan tersebut,”
tegasnya.
Mendengar
penjelasan tersebut, Kades Tanggul Tlare Baidi pun meminta maaf. Ia pun mengaku
memang ada pembicaraan (dengan investor) terkait tukar guling. Namun, hal itu
menurutnya baru sebatas rencana.
”Kalau dari
skala 100 persen baru 10 persen, baru pembicaraan. Rencananya mau dibuat POM
Bensin sampai ke belakang area (dekat pantai) nanti untuk wisata,” jelasnya.
Hanya saja, ia
mengklaim sudah melakukan sosialisasi kepada warga. Saat itu, ia mengklaim
tidak ada penolakan. Namun demikian, warga memang tak setuju jika peruntukan
tukar guling untuk pembangunan hotel.
klikFakta.com/089-Ed/Wahyu