| Pengukir perempuan di Jepara. (ist). |
Akan tetapi, Sutarya mengatakan, sampai saat
ini pihaknya belum memiliki data pasti jumlah pengukir di Jepara. “Jepara
memang kesohor dengan seni ukirnya, namun, memang saat ini baru ratusan
pengukir yang sudah mengantongi sertifikat profesi,” katanya.
Sutarya menambahkan, sertifikasi profesi ini
penting bagi pengukir, sebab diera industri seperti sekarang memang dibutuhkan.
Jumlah pengukir di Jepara masih sedikit yang sudah mengikuti uji kompetensi. Bagi
pengukir, sertifikat profesi dapat meningkatkan nilai ekonomi. “Penghargaan
terhadap pengukir bersertifikat dan tidak nantinya akan berbeda,” imbuh Sutarya.
Uji kompetensi ini, lanjutnya, juga akan
digunakan untuk mendata jumlah pengukir yang ada di Jepara. Uji sertifikasi ini
juga untuk meningkatkan kompetensi pengukir. “Sertifikat kompetensi ini berlaku
selama lima tahun,” jelasnya.
Sementara itu, Direktur Harmonisasi Regulasi
dan Standarisasi Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (Bekraf), Sabartua Tampubolon
menyampaikan, sebelumnya program sertifikasi kriya kayu dua kali dilaksanakan
di Bali. Uji kompetensi ini dimaksudkan untuk menyiapkan tenaga ahli dalam
bidang ukir kayu bersiang secara global.
“Kami pilih Jepara karena menjadi salah satu
kiblat untuk kriya ukir di Indonesia. Kedepannya, sertifikasi adalah sebuah
keharusan bagi segala profesi,” ujar Sabartua usai membuka sertifikasi kriya
kayu di Jepara.
Ada 16 sektor industri kreatif yang jadi fokus
Bekraf. Namun, baru tiga sektor industri kreatif yang didorong dan ditingkatkan
kompetensi pelakunya. Yaitu, bidang kuliner, fashion, dan kriya.
Dalam kegiatan uji sertifikasi selama dua
hari ini, setiidaknya diikuti sekitar 100 pengukir yang ada di Jepara. Sertifikasi
ini bekerjasama dengan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Furnitur dan Kayu
Olahan (FURNIKO).
EDITOR
: AHMAD ZAENAL MUSTOFA




